Mendengar suara dengingan tipis di tempat sunyi merupakan pengalaman yang cukup lumrah dialami banyak orang. Namun, situasi menjadi berbeda ketika dengingan tersebut memiliki ritme teratur yang persis menyerupai ketukan detak jantung atau deru aliran darah berdesir cepat. Di dunia medis, fenomena ini dikenal sebagai tinnitus pulsatil.

Kondisi ini bukan sekadar keluhan subjektif biasa. Para spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT) dan neurolog menegaskan bahwa tinnitus pulsatil memiliki karakteristik unik karena kerap bersumber dari kelainan mekanis atau gangguan sistem vaskular nyata di dalam kepala atau leher, bukan semata kerusakan saraf pendengaran sensorik.

Mekanisme Biologis di Balik Suara Berirama

Telinga bagian dalam dan sistem saraf pendengaran berada sangat dekat dengan pembuluh darah utama penyuplai otak, seperti arteri karotis dan vena jugularis. Dalam keadaan normal, aliran darah mengalir lancar tanpa suara yang dapat didengar oleh gendang telinga.

Ketika terjadi turbulensi aliran darah, penyempitan saluran vaskular, atau perubahan struktur tulang di sekitar telinga tengah, gelombang suara mekanis dari denyut nadi merambat langsung ke koklea. Akibatnya, penderita mendengar suara desiran ritmis (whooshing sound) yang berkejaran seirama dengan denyut nadi mereka sendiri.

Penyebab Utama yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan tinjauan neurologis dan data Kementerian Kesehatan RI terkait kewaspadaan gangguan vaskular, pemicu tinnitus pulsatil terbagi ke dalam beberapa kategori klinis serius:

1. Kelainan Pembuluh Darah (Vaskular)

Turbulensi darah dapat dipicu oleh aterosklerosis, yaitu penumpukan plak kolesterol pada dinding arteri karotis yang memasok darah ke otak. Penyempitan ini memaksa darah mengalir lebih deras dan bising. Kondisi lain yang lebih berisiko adalah malformasi arteriovenosa (AVM) atau fistula dural, di mana terjadi sambungan abnormal antara arteri dan vena di rongga kepala.

2. Hipertensi Intrakranial Idiopatik (IIH)

Kondisi ini terjadi ketika tekanan cairan serebrospinal di sekitar otak meningkat tanpa adanya massa tumor. Peningkatan tekanan ini menekan sinus vena transversal di otak, memicu desiran ritmis yang terdengar jelas di telinga. Gangguan ini sering disertai sakit kepala menekan dan gangguan penglihatan sementara.

3. Tumor Glomus (Paraganglioma)

Meskipun umumnya bersifat jinak, tumor pembuluh darah kecil yang tumbuh di belakang gendang telinga (tulang temporal) dapat menghasilkan pulsasi kuat yang terdengar sangat intens oleh penderita.

4. Kondisi Aliran Darah Berkecepatan Tinggi (Hiperdinamik)

Anemia berat, kehamilan, dan hipertiroidisme yang tidak terkontrol dapat memicu peningkatan curah jantung drastis. Aliran darah yang dipompa secara cepat dan masif ini sering memicu desiran vaskular yang ditangkap oleh reseptor pendengaran.

Peringatan Medis: Tinnitus pulsatil menuntut evaluasi menyeluruh. Berbeda dari denging statis, kondisi berirama detak jantung ini sering kali merupakan alarm fisik dari gangguan struktural pembuluh darah atau tekanan rongga kepala.

Gejala Penyerta dan Tanda Bahaya (Red Flags)

Keluhan ini tidak boleh diabaikan, terutama jika hanya terjadi pada satu sisi telinga (unilateral). Langkah awal yang krusial adalah melakukan pemeriksaan gejala klinis ke fasilitas medis terdekat.

Segera cari pertolongan medis darurat apabila suara denging disertai:

  • Sakit kepala hebat yang timbul mendadak.
  • Gangguan penglihatan, pandangan ganda, atau penglihatan mendadak gelap sesaat saat membungkuk.
  • Rasa melayang, pusing berputar (vertigo), atau kehilangan keseimbangan.
  • Kelemahan atau rasa kebas pada satu sisi wajah atau anggota gerak tubuh.
  • Penurunan daya pendengaran yang memburuk dengan cepat.

Prosedur Diagnosis dan Penanganan

Untuk melacak sumber masalah, dokter biasanya memulai pemeriksaan fisik dengan menempelkan stetoskop di area leher dan tengkorak (auskultasi). Bila dokter ikut mendengar suara bising tersebut melalui stetoskop, kondisi ini diklasifikasikan sebagai objective pulsatile tinnitus.

Rangkaian investigasi lanjutan yang umum direkomendasikan meliputi:

  1. Pemeriksaan Audiometri: Menilai derajat kepekaan fungsi dengar telinga.
  2. Pencitraan Vaskular: Magnetic Resonance Angiography (MRA) atau CT Angiography (CTA) kepala dan leher untuk memetakan jalur pembuluh darah secara detail.
  3. Funduskopi: Pemeriksaan retina mata untuk melihat ada tidaknya pembengkakan saraf optik (papiledema) akibat lonjakan tekanan cairan otak.

Penanganan tinnitus pulsatil berfokus langsung pada penyebab akarnya. Jika dipicu oleh hipertensi atau hipertiroid, terapi obat penstabil tekanan darah atau tiroid menjadi kunci. Apabila terdeteksi fistula, aneurisma, atau stenosis vaskular signifikan, tim spesialis bedah saraf atau radiologi intervensi dapat melakukan tindakan pemasangan stent atau embolisasi pembuluh darah untuk memulihkan aliran darah yang normal.

Artikel ini disajikan sebagai sumber edukasi kesehatan umum. Mengingat penyebab tinnitus pulsatil sangat bervariasi dari masalah metabolik hingga kelainan vaskular otak, pemeriksaan langsung dengan dokter spesialis THT dan neurologi mutlak diperlukan guna penegakan diagnosis yang akurat dan aman bagi Anda.