Tren mengonsumsi air rebusan rempah kian diminati masyarakat sebagai ikhtiar menjaga kebugaran tubuh. Salah satu ramuan yang populer adalah air rebusan kayu manis, yang kerap diandalkan untuk menstabilkan kadar gula darah dan mendampingi program penurunan berat badan. Kendati demikian, pandangan bahwa semua bahan herbal bebas risiko tanpa batasan dosis merupakan kekeliruan yang perlu diluruskan.

Para pakar toksikologi dan dokter spesialis penyakit dalam menemukan fakta medis yang mengkhawatirkan di balik kebiasaan meminum rebusan kayu manis setiap hari. Bahaya tersebut berakar dari kandungan senyawa alami bernama kumarin, yang dalam dosis berlebih memiliki sifat hepatotoksik atau merusak sel-sel hati secara bertahap.

Cassia vs Ceylon: Mengenali Jenis Kayu Manis di Pasaran

Sebagian besar kayu manis yang beredar di pasar tradisional maupun supermarket di Indonesia adalah jenis Cassia (termasuk Cinnamomum burmannii atau kayu manis Padang). Jenis ini memiliki aroma sangat tajam, rasa manis-pedas pekat, serta tekstur kulit batang yang tebal, keras, dan membentuk satu gulungan kaku.

Karakter ini bertolak belakang dengan kayu manis Ceylon (Cinnamomum verum) asal Sri Lanka yang memiliki struktur berlapis-lapis tipis menyerupai cerutu, rapuh saat diremas, dan beraroma jauh lebih lembut. Perbedaan varietas ini krusial karena varietas Cassia mengandung konsentrasi kumarin berkisar antara 2.000 hingga 7.000 miligram per kilogram, sementara varietas Ceylon hanya mengandung sekitar 10 hingga 40 miligram per kilogram (hanya sekelumit jejak kumarin).

Studi keamanan pangan menetapkan bahwa kayu manis Cassia mengandung kumarin ratusan kali lipat lebih tinggi dibanding Ceylon. Mengonsumsinya dalam bentuk rebusan pekat secara harian tanpa jeda dapat melampaui batas ambang kemampuan detoksifikasi hati manusia.

Mekanisme Biologis Kumarin Merusak Jaringan Hati

Secara farmakologis, kumarin adalah senyawa organik aromatik yang memberikan aroma khas pada kayu manis. Ketika masuk ke dalam sistem pencernaan, kumarin diserap cepat dan langsung dialirkan menuju organ hati untuk dimetabolisme.

Pada dosis rendah, enzim hati manusia mampu menguraikan kumarin menjadi senyawa aman 7-hidroksikumarin yang diekskresikan melalui urine. Namun, saat tubuh dibanjiri kumarin dalam jumlah besar secara terus-menerus, jalur metabolisme utama tersebut menjadi jenuh. Akibatnya, metabolisme beralih ke jalur alternatif yang menghasilkan metabolit antara reaktif bernama coumarin 3,4-epoxide.

Senyawa reaktif ini memicu stres oksidatif parah, merusak membran sel hepatosit (sel hati), dan mengakibatkan nekrosis atau kematian jaringan hati. Kondisi ini dapat berkembang dari peradangan hati tanpa gejala menjadi kerusakan hati terinduksi zat toksik (toxic hepatitis).

Batas Aman dan Risiko Toksisitas Berdasarkan Panduan Medis

Otoritas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) serta panduan evaluasi zat tambahan dari World Health Organization (WHO) menetapkan Batas Asupan Harian yang Dapat Ditoleransi (Tolerable Daily Intake/TDI) untuk kumarin adalah 0,1 miligram per kilogram berat badan per hari.

Artinya, seorang dewasa dengan berat badan 60 kilogram hanya memiliki toleransi aman maksimal 6 miligram kumarin per hari. Mengingat satu sendok teh bubuk kayu manis Cassia dapat mengandung 7 hingga 18 miligram kumarin, maka merebus satu batang utuh atau satu sendok teh Cassia setiap pagi sudah melampaui batas toleransi tersebut hingga berkali-kali lipat.

Masyarakat perlu mewaspadai tanda-tanda awal gejala gangguan fungsi hati yang kerap muncul perlahan akibat akumulasi zat toksik:

  • Rasa lelah ekstrem dan lesu berkepanjangan tanpa pemicu aktivitas fisik berat.
  • Mual, kehilangan nafsu makan, dan perut kembung di area kanan atas.
  • Urine berubah warna menjadi gelap pekat kecokelatan seperti teh pekat.
  • Sklera mata dan permukaan kulit mulai tampak kekuningan (ikterus).
  • Peningkatan enzim hati (SGOT/SGPT) saat dilakukan pemeriksaan panel darah laboratorium.

Panduan Bijak Menikmati Kayu Manis di Rumah

Mengetahui risiko toksisitas kumarin bukan berarti Anda harus memusuhi rempah aromatik ini seutuhnya. Pemanfaatan kayu manis sebagai bumbu penyedap masakan tetap tergolong aman karena porsinya tersebar dalam hidangan besar. Berikut adalah langkah preventif untuk konsumsi sehat:

  1. Beralih ke Jenis Ceylon untuk Minuman Rutin: Bila Anda berencana meminum air seduhan rempah secara berkala, investasikan pada stik kayu manis Ceylon asli yang berlabel jelas di kemasan.
  2. Batasi Frekuensi Kayu Manis Cassia: Jika hanya memiliki jenis Cassia, hindari meminum air rebusannya setiap hari. Batasi konsumsi maksimal 1-2 kali seminggu dalam porsi encer (sejumput kecil serpihan).
  3. Hindari Rebusan Berkonsentrasi Tinggi: Memasak kayu manis dalam air mendidih terlalu lama mengekstraksi seluruh kandungan kumarin ke dalam air secara maksimal.
  4. Cukupi Wawasan Herbal: Perdalam literasi melalui edukasi ramuan herbal alami guna memahami interaksi fitokimia rempah sebelum menjadikannya rutinitas harian.

Kapan Harus Memeriksakan Diri ke Fasilitas Medis?

Bagi siapa saja yang telah memiliki kebiasaan meminum air rebusan kayu manis pekat selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, sangat dianjurkan untuk menghentikan kebiasaan tersebut sementara waktu. Segera kunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan fisik dan uji fungsi hati (tes enzim SGOT, SGPT, dan bilirubin) guna memastikan kondisi organ filtrasi tubuh Anda tetap prima.

Penderita penyakit liver bawaan, orang yang rutin mengonsumsi obat-obatan penurun kolesterol (statin) atau obat pengencer darah, serta wanita hamil wajib berkonsultasi langsung dengan dokter sebelum mengonsumsi olahan herbal kayu manis dalam dosis medis.